Even I don’t really know what they’re talking about (since I’m so poor in Japanese), I think Ikuta-san (as Motoharu Yano) and Yoshitaka-san (as Nanami Takahashi) develop such a good relationship. They seems like cute couple, laughed at each other shameful scenes during Bokura ga Ita production. I hope this live action translated soon - and available online :D
Seminar proposal (atau disingkat sempro) adalah tahap inisiasi menuju titik aman untuk melakukan riset atau penelitian. Secara kasar, ini mirip dengan situasi waktu kita melamar orang (haha) dan belum jelas apakah lamaran kita diterima. Jika sistematika dan logika penyajian kita bisa diterima dosen penguji, maka penelitian/riset diizinkan untuk lanjut ke tahap pengambilan data. Jika tidak, tentu, penelitian kita dibatalkan.
Hari ini saya teringat teman baik saya, Ade Intan, yang sepertinya (sedikit) nervous menghadapi sempro-nya minggu depan. Nervous adalah musuh paling besar dalam performa sempro kita. Dan, well, untuk itu, ini trik-trik ala The Highness Aussie yang mungkin bisa membantu kalian untuk menghadapi momen awal tersebut:
PEER REVIEW
Setelah mendapat persetujuan dari supervisor (dosen pembimbing), review kembali draf penelitianmu. Teliti lagi apakah ada kesalahan penulisan, pastikan seluruh kutipan tercantum dalam daftar pustaka. Terkadang, dosen penguji sensitif terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang seharusnya tidak Anda perbuat dalam menghadapi sempro. Untuk mengatasi keteledoran Anda, coba minta teman Anda yang punya bakat editor (:P) untuk memeriksa draf Anda.
Bab yang paling disukai penguji untuk proses pembantaian adalah Bab 1 (Latar Belakang) dan Bab 3 (Metode). Untuk sukses bab 1, pastikan Anda memiliki dasar yang kuat dan alasan yang memadai mengapa penelitian Anda “harus” dan “worthy” untuk dilakukan. Biasanya, signifikansi penelitian menjadi sangat problematis, apalagi jika penelitian Anda adalah untuk memperebutkan dana dan hibah. Jika penelitian Anda tidak cukup penting dan bermanfaat, proposal Anda memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk lolos pendanaan. Untuk bab 3, pastikan penelitian sudah operasional dan siap untuk diterjunkan ke lapangan. Formula, statistik, dan instrumen harus relevan dengan tujuan penelitian. Kuncinya, coba berikan metode/instrumen tsb pada orang lain atau teman. Apakah ia bisa menggunakannya dengan mudah? Apakah ia bisa mendapatkan data dengan cara itu? Jika ya, maka metode Anda cukup reliabel.
LEAVE THE TRIVIAL MATTERS TO YOUR EVENT ORGANIZER
Setelah review beres dan draf sudah didistribusikan ke dosen penguji (maksimal 3 hari sebelum hari-H), kini saatnya Anda memikirkan masalah konsumsi dan perlengkapan. Pada beberapa kasus sempro informal, mungkin kita perlu mempersiapkan sempro stuff secara independen, misalnya LCD projector, OHP, presentation slides, konsumsi dosen, dsb. Dan karenananya, kadang kita pusing duluan karena sudah ribet mengurus hal-hal remeh semacam itu, yang kemudian akhirnya kita jadi lupa esensi proposal kita (pengalaman pribadi, haha).Maka dari itu, penting sekali bagi Anda untuk membentuk tim sukses sempro (your exclusive sempro staff who will organize your sempro stuff, haha).
Anda bisa memberikan budget finansial dan order konsumsi pada sempro staff, sehingga Anda tidak perlu hipotermia keliling bakery atau pastry kitchen. Manfaat lain yang (secara pribadi) saya petik dari kehadiran sempro staff adalah: 1) kita tidak terlihat pathetic, karena mahasiswa yang paling pathetic di dunia ini adalah mereka yang tidak memiliki bala bantuan waktu sempro :)), 2) kita punya orang yang bisa dipeluk waktu sempro selesai haha (kalau pembantaiannya cukup kejam).
DON’T BE PRAGMATIC BUT DON’T BE SO PERSISTENT
Hal yang agak dilematis dalam sempro adalah: apakah kita harus bersikap defensif atau give-up menghadapi kritik dan saran dari dosen penguji. Menurut hemat saya, pilihan itu bersifat seimbang. Artinya, karena sempro bersifat persetujuan, dosen penguji akan mengutamakan operasionalitas penelitian, bukan untuk menghabisi Anda.
Jadi, saat mereka melontarkan saran ataupun kritik, yang pertama yang harus Anda lakukan adalah “mendengarkan dengan baik dan mencatat”. Ya, listen up and take the notes. Kita harus pintar menyeleksi saran dan kritik mereka. Ketika saran/kritik mereka benar, maka terimalah dengan lapang dada. Jangan karena alter-ego, terus kita ngeyel habis-habisan. Itu akan membuat dosen penguji annoyed. Tapi, kalau kita punya dasar yang kuat, dan kita beranggapan bahwa saran/kritik dosen terlalu ribet dan kurang relevan, maka berikan sanggahan yang bersifat konfirmatif. Jangan terlalu frontal. Nervous bisa bikin kita frontal atau bahkan jadi speechless, have nothing to say, jadi akhirnya menelan semua saran dari dosen penguji yang (mungkin) tidak terlalu efektif. Atau bahkan, kadang kita sudah melakukan hal itu, tapi jadi “blank” karena saking deg-degannya menghadapi dosen yang killer-instinct. Jadi, the best of this session, bersikaplah profesional dan sesuai proporsi. Jangan pragmatis dan jangan terlalu persisten.
Semoga ini membantu bagi temen-temen yang mau sempro, atau junior-junior yang (katanya) pengen lulus cepet. Fight of flight!
There is a good reason they call these ceremonies “commencement exercises.” Graduation is not the end; it’s the beginning.
I’ve been busy due to my thesis close-session. I was really nervous to face Mr. Raharjo and Ms. Isna, but everything turns out to be okay (Lennon said everything will be okay in the end - sure, because we don’t care about finished business, huh?) even I was desperately counter-attacked every sarcasms and clarifications.
I got 89,33, revealed the A grade. I think I will be happy considering the hardship of my obsession to graduate this June. On the contrary effect, everything seems painful and meaningless. Everyone said, “Congratulations!” but I don’t recognize my own happiness. I put this mask too long, simply to ask admission and prestiges, simply to make everyone amazed of myself, simply to make the lecturer, advisor, and parents satisfied, simply to defend my honour, simply to officially win this pride over undiscovered wants (haha, what exactly I want anyway?) I was realized that I will be separated from friends, juniors, my favourite book shelves in the library, student boards, and crowded corridors - and somehow it feels lonely.
Is this the end? Is that all?
Haha. Sounds silly? Yeah, sometimes, I asked myself silly and retorical questions just to make sure the paths I chose tracked down. When I read the last chapter of Bokura ga Ita, my favourite (but forgettable) manga, I see the answer of that silly question. Nana, the lead female, reached out the empty spaces, remember the old days when she had to say goodbye to Yano. Suddenly Yano appears from behind, grasping her hands. He fills the empty spaces between Nana’s fingers, said, “What are you doing?”
Nana turns back to face Yano, and then she said to herself,
“This is not the end. This is where it began.”
The story skipped to the scene where Nana and Yano play hide and seek in such a wide meadow (I love how Obata Yuuki make simple shot become exteremely cute [but remains realistic] just by drawing the right place and the right words). Yano was disappear in the midst of their game, but suddenly shouted, “Nana, please be my family!”
I was really moved by all the words. It was simple but deep and honest. Graduation maybe seems pathetic for me because I feel that I’m going to loose my passion and comfortable environment. But it is not. It is the true beginning of this life. The new ways of finding new family, new friends, new workloads, (maybe new library :P): the true challenge to refine my studies and the obsession results (ahha).
Alrite. I’m tired of writing right now. I want to see the translated-Bokura ga Ita live action so freakin bad, but that will be long waiting, I guess. Anyway, I’m going to apply biology teacher position at Widya Wiyata School.